Pembangunan Ibu Kota Nusantara yang sangat masif di tanah Kalimantan Timur memicu diskusi hangat mengenai keberlangsungan budaya lokal, terutama posisi Masyarakat Dayak di tengah modernisasi. Seiring dengan pertumbuhan gedung-gedung pemerintahan yang megah, muncul kekhawatiran nyata bahwa situs-situs bersejarah dan hutan yang menjadi tempat ritual adat akan terhimpit oleh pembangunan infrastruktur beton. Ketegangan antara ambisi kemajuan nasional dan kebutuhan untuk mempertahankan warisan leluhur menjadi isu sensitif yang memerlukan kebijakan yang sangat bijaksana dari pihak otoritas.
Bagi Masyarakat Dayak, tanah Kalimantan adalah ruang hidup yang suci dan dipenuhi dengan nilai-nilai spiritual yang tidak bisa dinilai dengan uang. Setiap pohon dan aliran sungai seringkali memiliki kaitan erat dengan upacara adat yang sudah dilakukan selama berabad-abad secara turun-temurun. Jika proses pembangunan IKN tidak benar-benar melibatkan suara masyarakat asli, dikhawatirkan akan terjadi keterputusan generasi terhadap akar budayanya sendiri. Perlindungan terhadap hutan ulayat harus menjadi prioritas agar identitas lokal tidak hilang di tengah gemerlapnya kota cerdas yang sedang dibangun.
Pemerintah memang sering menekankan konsep pembangunan yang berkelanjutan, namun tantangan di lapangan bagi Masyarakat Dayak tetaplah besar. Mereka berharap bahwa janji mengenai integrasi budaya bukan hanya sekadar slogan, melainkan diwujudkan dalam bentuk ruang-ruang publik yang tetap menghormati batas-batas sakral wilayah adat. Dialog yang setara antara pemangku kebijakan dan tokoh adat sangat diperlukan untuk memastikan bahwa kemajuan teknologi di ibu kota baru tetap berjalan beriringan dengan kearifan lokal yang telah menjaga alam Kalimantan selama ini.
Keberhasilan pembangunan IKN pada akhirnya akan dinilai dari seberapa besar negara mampu melindungi hak-hak Masyarakat Dayak sebagai penjaga hutan yang sejati. Modernitas seharusnya tidak datang dengan cara menghancurkan tradisi, melainkan memberikan perlindungan yang lebih kuat bagi keberagaman budaya bangsa. Dengan memberikan pengakuan sah atas wilayah adat dan melibatkan penduduk lokal dalam ekosistem ekonomi baru, ibu kota baru bisa menjadi contoh dunia tentang bagaimana kemajuan fisik dan kelestarian budaya bisa tumbuh bersama secara harmonis di tanah Borneo.
