Palangka Raya, Kalimantan Tengah – Sebuah insiden mengejutkan terjadi di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, di mana dua remaja putri terlibat dalam perkelahian fisik yang diduga kuat dipicu oleh persaingan untuk mendapatkan perhatian seorang pelatih futsal. Peristiwa remaja bentrok ini terjadi di area luar lapangan futsal GOR Indoor Serbaguna Palangka Raya pada Selasa sore, 8 April 2025, sekitar pukul 16.30 WITA.
Kejadian remaja bentrok ini sempat menarik perhatian sejumlah orang yang berada di sekitar lokasi. Menurut saksi mata, perkelahian bermula dari adu mulut yang semakin memanas antara kedua remaja putri tersebut. Diduga, keduanya merupakan anggota dari tim futsal yang berbeda namun memiliki pelatih yang sama. Persaingan untuk mendapatkan perhatian dan mungkin saja perlakuan khusus dari sang pelatih menjadi pemicu utama pertengkaran.
“Awalnya cuma cekcok biasa, tapi lama-lama saling dorong dan akhirnya jambak-jambakan,” ujar Andre (17), seorang saksi mata yang juga pemain futsal di GOR tersebut, Rabu (9/4/2025). Andre menambahkan bahwa perkelahian baru berhenti setelah beberapa orang dewasa yang berada di lokasi melerai keduanya.
Identitas kedua remaja bentrok tersebut diketahui berinisial SL (16) dan NR (15), keduanya merupakan siswi dari sekolah menengah atas yang berbeda di Palangka Raya. Akibat perkelahian tersebut, keduanya dilaporkan mengalami luka ringan seperti memar dan lecet. Pihak pengelola GOR kemudian menghubungi pihak kepolisian Sektor Pahandut untuk menangani insiden ini.
Kapolsek Pahandut, Kompol Ujang Sukandar, S.H., saat dikonfirmasi membenarkan adanya laporan terkait remaja bentrok tersebut. “Kami telah menerima laporan dari pihak pengelola GOR dan telah memanggil kedua remaja putri beserta orang tua masing-masing untuk dimintai keterangan,” jelas Kompol Ujang pada Rabu siang. Pihaknya juga akan memanggil pelatih futsal yang bersangkutan untuk mendapatkan klarifikasi terkait dugaan pemicu perkelahian.
Kompol Ujang menyayangkan terjadinya insiden remaja bentrok ini, apalagi dipicu oleh hal yang kurang positif. Pihaknya mengimbau kepada para remaja untuk lebih bijak dalam menyelesaikan masalah dan menghindari tindakan kekerasan. Pihak kepolisian juga akan melakukan pembinaan kepada kedua remaja putri tersebut agar kejadian serupa tidak terulang kembali. Kasus ini menjadi perhatian bagi para orang tua dan pihak sekolah untuk lebih mengawasi pergaulan anak-anak mereka, terutama dalam lingkungan ekstrakurikuler.
