Khasiat Buah Kapul: “Manggis” Putih yang Menyegarkan
Hutan tropis Indonesia menyimpan kekayaan hayati yang luar biasa, salah satunya adalah buah kapul yang sering dijuluki sebagai “Manggis” Putih karena karakteristik fisiknya yang menyerupai manggis namun memiliki daging buah berwarna putih bersih. Buah yang mulai langka ini memiliki cita rasa manis asam yang sangat menyegarkan, sehingga menjadi primadona bagi para pemburu buah eksotis. Di tengah meningkatnya tren gaya hidup sehat pada tahun 2026, buah ini kembali populer sebagai alternatif buah lokal yang kaya akan nutrisi. Masyarakat kini mulai menyadari bahwa buah-buahan hutan memiliki khasiat yang tidak kalah hebat dibandingkan dengan buah impor yang beredar luas di pasaran.
Secara morfologi, buah kapul atau “Manggis” Putih ini memiliki kulit yang cenderung lebih keras dan tebal berwarna cokelat kayu, berbeda dengan manggis biasa yang berwarna ungu pekat. Namun, begitu kulitnya dibuka, penampakan daging buah yang putih jernih dan bertekstur lembut langsung memberikan kesan segar. Berdasarkan pengamatan para ahli botani dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan pada survei lapangan hari Selasa, 10 Februari 2026, buah ini mengandung kadar vitamin C yang sangat tinggi serta antioksidan alami. Kandungan tersebut sangat efektif untuk meningkatkan sistem imun tubuh, terutama dalam menghadapi perubahan cuaca yang ekstrem seperti yang terjadi belakangan ini.
Pemerintah daerah melalui penyuluh pertanian di wilayah sentral produksi juga terus menggalakkan budidaya tanaman ini agar tidak punah. Pada sebuah pertemuan koordinasi yang dihadiri oleh perangkat desa dan petugas pengamanan dari kepolisian setempat di balai pertemuan rakyat baru-baru ini, dibahas mengenai perlindungan area hutan tempat pohon kapul tumbuh. Petugas kepolisian dari sektor wilayah tersebut turut memberikan imbauan agar masyarakat tidak melakukan penebangan pohon secara liar demi menjaga kelestarian “Manggis” Putih yang menjadi ikon lokal. Penjagaan ini penting dilakukan karena masa panen buah ini hanya terjadi satu kali dalam setahun, biasanya pada bulan Januari hingga Maret, sehingga keberadaannya sangat berharga secara ekonomi bagi petani setempat.
