Psikososial Korban Bencana: Pentingnya Pemulihan Mental di Masa Transisi

Ketika bencana alam melanda, fokus utama tim penolong dan pemerintah seringkali tertuju pada penyelamatan nyawa, penyediaan kebutuhan dasar (pangan, sandang, papan), dan pemulihan infrastruktur fisik. Namun, aspek yang tidak kalah krusial dan memiliki dampak jangka panjang adalah psikososial korban bencana. Fase transisi, yaitu periode setelah fase darurat selesai dan sebelum rekonstruksi permanen dimulai, merupakan masa yang sangat rentan bagi kondisi mental para penyintas. Hilangnya anggota keluarga, rumah, dan mata pencaharian dapat memicu trauma berat, kecemasan, depresi, hingga Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD). Oleh karena itu, memastikan layanan pemulihan mental terpadu di masa ini menjadi indikator penting keberhasilan penanganan bencana secara keseluruhan.

Penanganan psikososial korban bencana harus dilakukan secara terstruktur dan berlapis. Tahap awal, atau Psychological First Aid (PFA), harus segera diberikan di lokasi pengungsian untuk menstabilkan emosi para penyintas. Studi kasus pasca-gempa di Nusa Tenggara Barat pada tahun 2018 menunjukkan bahwa intervensi PFA yang cepat dapat mengurangi tingkat keparahan gejala stres akut. Intervensi ini dilakukan oleh tim relawan dan psikolog dari Kementerian Sosial (Kemensos) dan Dinas Kesehatan setempat. Menurut data dari Posko Induk Bantuan Psikososial, tercatat lebih dari 5.000 sesi konseling kelompok dan individual telah dilaksanakan dalam kurun waktu tiga bulan pasca-gempa.

Memasuki masa transisi, kebutuhan beralih dari krisis akut menjadi dukungan berkelanjutan. Di sinilah tantangan psikososial korban bencana seringkali diabaikan. Masyarakat mulai menyadari skala kerugian permanen dan menghadapi ketidakpastian masa depan, terutama saat harus tinggal di hunian sementara. Untuk mengatasi ini, program Dukungan Psikososial (DPS) perlu diperkuat melalui kegiatan berbasis komunitas, seperti kelompok dukungan sebaya dan aktivitas rekreatif yang melibatkan anak-anak. Contohnya, di pengungsian mandiri di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, pasca-gempa November 2022, aparat Kepolisian Sektor (Polsek) setempat bekerjasama dengan pekerja sosial mengadakan kegiatan “Trauma Healing Fun Day” setiap hari Jumat. Acara ini berfokus pada terapi bermain dan seni untuk membantu anak-anak mengekspresikan trauma mereka secara non-verbal.

Selain kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia, relawan dan petugas lapangan juga perlu mendapatkan perhatian psikososial korban bencana. Mereka sering mengalami kelelahan emosional atau burnout akibat paparan terus-menerus terhadap penderitaan korban. Untuk itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di setiap wilayah wajib menyediakan sesi debriefing dan dukungan mental bagi seluruh personel, termasuk anggota TNI dan petugas medis, yang terakhir kali diselenggarakan pada tanggal 10 April 2025 di markas Komando Resor Militer (Korem) setempat. Upaya sistematis untuk menangani trauma kolektif ini adalah investasi jangka panjang.

Dengan demikian, pemulihan pasca-bencana tidak akan lengkap tanpa pemulihan mental. Melalui program yang terintegrasi dan sensitif terhadap budaya lokal, psikososial korban bencana dapat dikelola dengan baik, membantu para penyintas bertransisi dari status korban menjadi individu yang mampu membangun kembali kehidupan mereka dengan ketahanan mental yang kuat.